2026-04-23
HaiPress


JAKARTA, iDoPress - Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Manggarai, Jakarta Selatan.
Di tengah ritme kota yang tak kenal jeda itu, warung Tegal atau warteg tetap berdiri sebagai penyangga kebutuhan paling dasar, makan.
Di sebuah warteg berukuran 4x5 meter, Darwan (39) terlihat sigap melayani pelanggan.
Etalase berisi puluhan lauk tersusun rapi, dari orek tempe, ayam goreng, hingga sayur lodeh yang masih mengepul.
Tangannya bergerak cepat, mengambil nasi, menambahkan lauk sesuai permintaan, lalu menyerahkan sepiring makan dalam hitungan detik.
Darwan mengaku, dalam kondisi normal, omzet wartegnya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per hari.
Saat ramai, angka itu bisa menembus Rp 2,5 juta. Namun angka tersebut bukan berarti keuntungan besar.
“Bersih itu sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta sehari kalau ramai. Tapi itu kalau bahan stabil. Kalau bahan naik, keuntungan turun,” kata Darwan saat ditemui iDoPress, Rabu (22/4/2026).

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Salah seorang pelanggan tampak menikmati santap siang dengan menu ramesan di Warteg Kharisma Bahari Juanda, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Ia menyebut, biaya terbesar datang dari bahan makanan seperti beras, ayam, telur, minyak goreng, hingga gas.
Kenaikan harga salah satu saja bisa langsung memangkas margin.
Untuk menyiasati itu, Darwan tidak langsung menaikkan harga jual.
Ia memilih strategi yang lebih halus, mengatur komposisi menu dan variasi lauk.
“Misalnya ayam lagi mahal, kita bikin menu lain yang lebih banyak. Ada cumi hitam, ayam suwir pedas, atau lauk rumahan lain. Jadi orang tetap punya pilihan,” ujar dia.
Selain itu, ia juga memanfaatkan platform pesan antar untuk menambah pemasukan.
Meski ada potongan dari aplikasi, langkah ini mampu meningkatkan omzet hingga 20 persen.
“Kalau lewat aplikasi, harga kita naikkan sedikit buat nutup potongan,” kata dia.
Strategi serupa juga diterapkan Nur (52), pengelola warteg di kawasan Gondangdia.
Di dapur kecilnya, ia tampak menyiapkan berbagai lauk sambil sesekali melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Nur mengatakan, omzet wartegnya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per hari, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 400.000 hingga Rp 600.000.
Namun angka itu bisa turun drastis ketika harga bahan pokok melonjak.
“Yang berat itu harga bahan naik turun. Kita enggak bisa ikut naikkan harga terus,” kata Nur saat ditemui.

iDoPress/Krisda Tiofani Warteg Kharisma Bahari di Perum Bukit Dago, Gunung Sindur, Rabu (22/4/2026).
Alih-alih menaikkan harga, ia memilih mengakali menu.
Saat harga ayam naik, ia memperbanyak lauk alternatif seperti tahu, tempe, atau ikan kecil.