
BOGOR, iDoPress - Pedagang warung nasi di Kota Bogor memutar otak agar dapat bertahan imbasharga bahan pokok melonjak.
Kenaikan harga pangan itu dimulai seputar cabai, tomat, dan bawang yang biasa digunakan oleh para pedagang warung nasi sebagai pelengkap rasa masakan.
Sejumlah pedagang warung nasi di Kota Bogor mulai menaikkan harga jual dan memangkas porsi menjadi lebih sedikit daripada biasanya.
Salah satu pedagang warung nasi, Rangga (22) mengungkapkan, perlu menyesuaikan harga jual lauk karena harga bahan pangan di pasar naik.
"Harga masakan jadi naik nyesuain saja harga yang di pasar, kayak nasi, sayur, teri, ayam jadi harganya juga dinaikin," ungkap Rangga saat ditemui iDoPress di Kebon Pedes, Kota Bogor, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, kenaikan menu seperti ayam bakar yang semula Rp 14.000 menjadi Rp 15.000 untuk satu bagian, lalu menu teri, kikil, dan capcai mengalami kenaikan harga sebesar Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per sendoknya.
Kemudian, nasi putih juga mengalami kenaikan harga yang semula Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per porsinya.
Dari kenaikan harga tersebut, Rangga kerap kali menerima komentar dari pembeli.
"Pernah 'harganya naik jadi beda' gitu. Saya ngasih tahu harga pangannya naik," ujar dia.
Dia menambahkan, sebelum terjadi kenaikan harga pangan tepatnya sebelum Hari Raya Idulfitri masih banyak pembeli yang makan di tempatnya.
Sejak kenaikan harga, pembeli semakin menurun yang berbelanja di tempatnya.
"Masih banyak sebelum idulfitri kadang makan di sini banyak yang bungkus banyak. Jadi dikit, biasanya jam makan siang sudah ramai biasanya 20 orang, pas sudah dinaikin paling sembilan sampai 10 orang," jelasnya.
Menurutnya, menaikkan harga tersebut khawatir pelanggan kabur.
"Enggak berani kalau dinaikin gede, takutnya yang beli kaget, itu dinaikin juga masih bingung," ucap dia.
Pedagang lainnya, Gendis (36) mengatakan, tidak memilih menaikkan harga lauk di warung nasinya karena khawatir pelanggan tidak membeli.