


JAKARTA, iDoPress - Ketiadaan lahan kosong dan mahalnya biaya sewa lapangan olahraga membuat anak-anak di RW 08 Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, kesulitan menyalurkan hobi bermain bola.
Keresahan inilah yang menjadi alasan pemuda di wilayah Menteng Jaya menginisiasi turnamen sepak bola bertajuk "Liga Aspal" di tengah jalanan kampung.
Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Andicka Prasetia atau yang akrab disapa Odoy (27), mengungkapkan bahwa kawasan Menteng Jaya kini sudah sesak oleh permukiman padat dan nyaris tidak menyisakan ruang terbuka hijau yang bisa diakses secara gratis.
"Di kampungan ini emang udah full semuanya permukiman rumah-rumah, udah enggak ada sama sekali lahan kosong lapangan. Kalaupun ada lapangan di belakang, itu lapangan badminton kecil dan enggak maksimal buat main bola," kata Andicka saat ditemui iDoPress di Menteng Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026).

Dokumentasi: Karang Taruna RW 08 Menteng Pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat
Andicka menjelaskan, warga atau anak-anak terpaksa keluar kampung dan merogoh kocek yang tidak sedikitjika mereka ingin bermain sepak bola dengan fasilitas yang layak.
"Kalaupun mau main bola harus keluar kampung, itu pun nyewa lapangan futsal yang biayanya minimal Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per jam. Jadi hobi dan bakat mereka main bola itu susah tersalurkan dengan baik," keluhnya.
Berangkat dari keresahan itu, Karang Taruna RW 08 memutuskan untuk memfasilitasi mereka melalui Liga Aspal untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun (U-13).
"Ya sudah, karena tiap sore ngelihat anak-anak main bola di jalanan, kenapa enggak kita fasilitasi? Akhirnya Liga Aspal ini jadi wadah buat mereka yang suka main bola," tutur Andicka.
Di depan permukiman warga sebenarnya terdapat sebidang lahan kosong milik PT KAI yang berada di sisi rel kereta api. Namun, lahan tersebut terbengkalai, dipenuhi sampah, dan tidak dimanfaatkan.
Warga sempat bergotong royong setiap Sabtu dan Minggu selama tiga bulan untuk membersihkan serta meratakan lahan tersebut. Mereka berharap area itu dapat dijadikan sarana olahraga gratis bagi anak-anak dan warga sekitar.
Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil karena lahan tersebut tidak diizinkan untuk digunakan dengan alasan keamanan.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Andicka Prasetia (27) Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Jakarta Pusat saat ditemui di Jalan Menteng Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026)
"Secara surat kita sudah masuk, ya cuma alasannya kayak gitu saja, balasannya enggak ada secara pendekatan kemanusiaan. (Pendekatannya) Cuma pasal, misalnya menjerat karena mengambil lahan KAI," ungkap Andicka.
Padahal, Andicka menyebut sejak awal warga hanya meminta pendekatan sosial untuk memanfaatkan lahan dan bersedia menjaga kebersihan area tersebut.
"Masyarakat butuhnya pendekatan secara kemanusiaan. Terus kalau misalnya memang enggak boleh (dipakai), minimal dibersihinlah dari KAI biar enggak jadi kotor," ucap dia.
Karena dilarang, Liga Aspal pun akhirnya digelar langsung di atas aspal jalanan kampung.