Terbaru

Tautan ramah

Berikut Negara Tujuan Lulusan SMK yang Bisa Kerja ke Luar Negeri Lewat Program Pemerintah

2026-08-05     HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengungkap daftar negara tujuan penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) dari lulusan SMK melalui program Asta Mandala SMK Go Global yang mulai dibuka tahun ini.

Menurut Mukhtarudin, penempatan akan difokuskan ke sejumlah negara di Asia hingga Eropa.

Negara tujuan tersebut meliputi Jepang, Jerman, Malaysia, Korea Selatan, Turki, Singapura, Maladewa, dan Taiwan.

“Para lulusannya nanti akan diarahkan untuk mengisi peluang kerja di berbagai negara tujuan yang sudah kita tentukan sebagai negara penempatannya, yaitu seperti Jepang, Jerman, Malaysia, Korea Selatan, Turki, Singapura, kawasan Eropa, Maladewa, dan Taiwan,” kata Mukhtarudin dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).

Ia mengatakan, negara yang diproyeksikan menyerap tenaga kerja paling banyak antara lain Malaysia, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Maladewa, Turki, dan Jerman.

Pemilihan negara-negara tersebut, kata Mukhtarudin, telah didasarkan pada pemetaan kebutuhan tenaga kerja di masing-masing negara.

Karena itu, peserta akan dibekali pelatihan sesuai kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja di negara tujuan.

“Jadi ini mekanismenya adalah ada dulu pasarnya, ada dulu negara penempatan dan sektornya, dibutuhkan kompetensi seperti apa, baru dilatih,” jelas Mukhtarudin.

Program Asta Mandala SMK Go Global akan dibuka secara daring mulai 12 Agustus 2026.

Selain itu, Kementerian P2MI juga menyiapkan balai pendaftaran di 23 provinsi untuk memberikan informasi dan pendampingan kepada calon peserta.

Pada 2026, pemerintah menargetkan pemberangkatan 40.000 pekerja migran.

Karena program dimulai pada paruh kedua tahun ini, peserta diwajibkan telah memiliki kemampuan dasar (basic skill) sesuai kebutuhan sektor pekerjaan.

Selanjutnya, peserta akan mengikuti pelatihan singkat, pembekalan bahasa, serta proses sertifikasi sebelum diberangkatkan.

Sementara itu, pada 2027 pemerintah menargetkan pemberangkatan 140.000 pekerja migran.

Berbeda dengan tahun ini, peserta tahun depan dapat mendaftar meski belum memiliki kemampuan dasar karena waktu pelatihannya lebih panjang.

“Tahun depan itu kita sudah reguler, mulai dari Januari sehingga panjang waktu pelatihannya. Nah sehingga mungkin itu bisa dari yang nol, bukan upskilling,” tutur dia.

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pemberangkatan 500.000 pekerja migran hingga 2029.

Mukhtarudin berharap masyarakat memanfaatkan jalur resmi yang telah disiapkan pemerintah agar tidak tergiur berangkat secara nonprosedural yang berisiko menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Diharapkan masyarakat tidak lagi menggunakan jalur-jalur yang non-prosedural. Karena jalur sudah ada, mekanismenya sudah ada, pembiayaannya sudah ada juga,” ujar dia.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
Kembali ke atas
© Hak Cipta 2009-2020 Masyarakat Ekonomi Indonesia      Hubungi kami   SiteMap