Terbaru

Tautan ramah

Megawati Kritik Hukum Seperti Karet: Yang Salah Dibenarkan, Yang Benar Disalahkan

2026-08-12     HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjungan Megawati Soekarnoputri mengkritik kondisi penegakan hukum di Indonesia yang dinilainya seperti karet.

Menurut dia, penegakan hukum saat ini cenderung membuat suatu hal yang salah menjadi dapat dibenarkan, begitupun sebaliknya.

"Yang namanya hukum saya bilang kayak karet. Apa? Yang salah dibenarkan, hah? Yang benar disalahkan. Ya terserah saja dah. Kemauan kalian, nah gitu loh," ujar Megawati dalam acara Ekspose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II: Masa Reses dan Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) 10 sampai dengan 17 Juli 1945, Senin (10/8/2026), dikutip dari YouTube BPIP.

Megawati kemudian menyinggung pentingnya memberikan kesempatan kepada kedua pihak dalam sebuah persoalan untuk menyampaikan keterangan.

"Harus dua-duanya itu diberi kesempatan untuk bicara. Ini kan enggak," ujar Megawati.

Kritik tersebut disampaikan Megawati ketika berbicara mengenai pengalaman keluarganya dalam menghadapi berbagai tudingan.

Megawati mengatakan, keluarganya masih bersabar ketika menghadapi berbagai pernyataan yang dinilainya tidak benar.

"Kami ini keluarga Bung Karno, kebayang tidak? Eh. Ini enggak bohong loh. Mau diomongin terus nanti ada buzzer yang mau melawan, saya panggil loh buzzer-nya. Betul loh," kata Megawati.

"Kalau ini saya masih sabar, nah ya dijelekin. Oh kemarin, tapi yang dua sudah saya ini, saya apa namanya, su," sambung dia.

Dalam pidatonya, Megawati juga menyinggung status Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno yang pernah dianggap bersalah oleh negara melalui TAP MPR pada masa Orde Baru.

Padahal, sang proklamator tidak pernah menjalani proses hukum untuk membuktikan benar atau tidaknya tuduhan Orde Baru tersebut.

"Apa? Loh, saya hitung ini cap itu 56 tahun loh melekat pada dirinya, padahal boleh cari ahli hukum di mana saja," kata Megawati.

"Kalau Bung Karno itu pernah diiniin, diproses? Never," lanjut dia.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
Kembali ke atas
© Hak Cipta 2009-2020 Masyarakat Ekonomi Indonesia      Hubungi kami   SiteMap