Terbaru

Tautan ramah

Sulit Cari Air Bersih, TNI AD Bor hingga 180 Meter dan Pindah 8 Kali di Gunungsitoli

2026-08-13     HaiPress

BEKASI, iDoPress - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan, TNI Angkatan Darat (AD) sulit mencari air bersih di Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara.

“Selanjutnya ada daerah yang paling sulit yang kita bor ada di Gunungsitoli di Nias,” kata Maruli saat melaporkan pembangunan jembatan dan air bersih kepada Presiden Prabowo yang hadir secara virtual di Desa Ridomanah, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Kamis (13/8/2026).

Di wilayah tersebut, Maruli mengatakan, prajurit harus mengebor hingga 180 meter untuk menjangkau air bersih.

“Daerahnya sangat berbatu, 8 kali pindah tempat untuk mendapatkan air,” ujar Maruli.

Namun, Jenderal bintang empat itu memastikan bahwa TNI AD telah merampungkan pengeboran selama dua bulan terakhir di Gunungsitoli.

“(Air bersih di sana) bisa menerima manfaat sampai 231 KK,” ungkap Maruli.

Selain Gunungsitoli, Maruli menyebut Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sebagai salah satu wilayah yang sulit mendapatkan air bersih.

Pulau Raas berada di sebelah timur Pulau Madura.

Menurut Maruli, wilayah tersebut sebelumnya kerap mendapat pasokan air bersih dari kapal TNI Angkatan Laut (AL).

“Kadang-kadang TNI Angkatan Laut harus mengirim kapalnya untuk mendukung air bersih di sana. Kami sudah membuat 5 titik di sana, kita mendapatkan di 90 meter. Ini di titik ke-3.000 di Sumenep,” ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Maruli melaporkan kepada Prabowo bahwa TNI AD telah membangun 10.912 titik air bersih.

Ia mengatakan, sebelum mendapat dukungan dari Presiden Prabowo, TNI AD membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk membangun 5.797 titik air bersih.

“Sejak Bapak mendukung kegiatan air bersih ini, mulai dari Januari sampai dengan Agustus ini, sudah selesai 3.000 titik, Pak. Jadi dukungan Bapak ini sama dengan kami bekerja 4 tahun. Baru bulan Agustus kami sudah bisa bikin 3.000 (titik),” kata dia.

TNI AD juga membangun infrastruktur air untuk mendukung sektor pertanian.

Maruli menyebut program tersebut telah mengairi lahan seluas 83.150 hektar yang sebelumnya hanya mengandalkan hujan.

Dengan adanya sumber air, lahan tersebut kini dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun.

“Sekarang kita sudah, atas dukungan Bapak, kita akan menambahkan titik sudah mulai dikerjakan ada 445 titik yang bisa mengairi 16.970 hektar,” ungkap Jenderal bintang empat tersebut.

Dengan demikian, total lahan tadah hujan yang ditargetkan dapat dialiri mencapai 100.120 hektar.

Maruli memperkirakan pengairan tersebut dapat meningkatkan produksi gabah hingga sekitar 1,5 juta ton per tahun.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
Kembali ke atas
© Hak Cipta 2009-2020 Masyarakat Ekonomi Indonesia      Hubungi kami   SiteMap